Tanggal 28-februari-2012 di TVRI htm:Free (gratiss maannnnn)
menghadiri :
-TONY Q RASTAFARA
-STEVEN JAM
-COCONUTHEAD (MEDAN)
-RICHARD D GILLIS
-MONKEY BOOTS
-MAGIC SEAWEED
gak ada kata gagal didunia ini asalkan kita mau berusaha mencari kunci kegagalan itu sendiri :)
Senin, 20 Februari 2012
Kamis, 16 Februari 2012
Cerita Tony Q Rastafara
Anak kampung yang berontak dari pabrik kaleng.
Memilih hidup dan bermusik di jalanan. Walau digasak dan dicemooh orang, tetap memilih reggae sebagai jalan hidupnya. Lagu-lagunya direkam Putumayo label tersohor dunia untuk world music. Sohor di ajang festival di Amerika tetapi selalu ditolak Kedutaan Amerika di Jakarta ketika mengurus visa.
Inilah reggaeman kita yang selalu bersahaja
SELALU ada berita baru tentang reggae dari Tony Q Rastafara. Selalu ada album atau master musik reggae di dalam tas kecilnya yang akan diperlihatkan kepada orang yang tertarik mencari tahu apa yang kini dikerjakannya. Atau sebuah buku, Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi yang agak lusuh karena sering dibaca dari tangan ke tangan, dibahasnya bersama beberapa kawan di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan kebetulan dia memberi komentar singkat di sampul belakang. Tony Q, memang reggaeman yang bersemangat!
Kadang dia menghilang dari Jakarta beberapa bulan untuk melakukan konser di beberapa kota di Jawa dan Bali. Biasanya digelar di kampus-kampus, atau bar dan cafe. Kadang langkahnya panjang hingga mancanegara, “Aku mau berangkat ke Aus, nih!” katanya lewat telepon seluler, suatu kali. Maksudnya pergi ke Australia untuk melakukan mixing di Sound Warp untuk album barunya, Anak Kampung, yang akan dirilis dalam waktu dekat ini.
Album Anak Kampung, melibatkan Fully Fullwood, pionir reggae, seorang bassist yang cukup penting perannya dalam perkembangan musik reggae di Jamaika pada dekade 70an.
Selama tigapuluh tahun karir musiknya, Fullwood pernah bekerjasama dengan Bob Marley, Peter Tosh, Black Uhuru, Gregory Isaacs hingga The Mighty Diamondas. Setahun yang lalu, Fully Fullwood dan kawan-kawannya di band Tosh Meets Marley sempat melakukan tur konser di Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan Bali. Di belakang panggung konser, Tony Q diperkenalkan kepada Fully Fullwood dan kawan-kawan, serta manajer Mark Miller.
Tiba-tiba saja scene reggae di tanah-air heboh melihat kedekatan Tony Q dengan Fully Fullwood yang kemudian berujung bekerjasama membuat sebuah album.
Sekembali Tony Q dari Australia, BATAVIASE NOUVELLES menemuinya di Wapres pada suatu petang. Sambil menyeruput kopi pahit dan menghisap rokok kretek dengan diselingi senda gurau, lagi-lagi Tony Q bersemangat menjawab BATAVIASE.
Bagaimana Anda bisa dekat dengan Fully Fullwood lalu bekerjasama membuat sebuah album. Apa ini sebuah kebetulan?
Ya, awalnya memang panitia konser memperkenalkan gue dengan Fully Fullwood. Bagi gue ini seperti mimpi besar. Bisa bernyanyi satu panggung dengan musisi reggae legendaris. Bayangkan, dia bilang,’Reggae lahir di dekat rumah saya.’
Lalu dia cerita tentang Bob Marley yang dulunya masih anak bawang… Wah, orang ini nggak sembarangan. Beberapa lagu Bob Marley kan dia ikut menulis, seperti Mr. Brown, Sun is Shining… Wah, luarbiasa!
Lalu panitia menyiapkan keberangkatan mas tony ke Bali untuk jam-session dengan band Tosh Meets Marley. Nah, ketika di Bali, ini seperti sebuah kebetulan… Setelah konser selesai, manajer band Mark Miller dan Fully serta para musisi ingin jalan-jalan melihat panorama Bali. Ketika itu panitia kabur entah ke mana, sehingga mas tony dan seorang sopir menemani mereka pergi ke Tanah Lot.
Bayangkan, dalam mobil cuma mas tony dan sopir doang orang Indonesia yang mengantar musisi reggae dunia, ada yang datang dari California, Swiss, Kanada. Jadi, walau pun satu band tapi mereka tinggal di negara yang berbeda. Selama perjalanan kita semakin akrab, karena gue membantu motret dan ngejelasin tentang pura Tanah Lot. Mereka sangat senang sekali, happy!
Selama bersama mereka, mas tony nulis lagu Woman yang kata Fully, ’Stag in my head’ dan Mark Miller dapat ide bikin lagu juga, judulnya In The Ghetto, idenya dia dapat ketika melihat orang-orang Jakarta yang bekerja di pagi buta untuk memberi makan keluarga.
Proses rekaman Woman juga terbilang cepat. mereka janjian ketemu di Studio Intro, Kemang, untuk rekaman. Beberapa jam sebelum mereka datang dari Bali, gue udah di studio, karena mas tony pengen tepat waktu, nggak mau telat. Di studio ma stony coba-coba bikin bahan dasar musik untuk Woman dengan gitar. Kemudian Fully datang langsung merespon dengan bass, begitu juga dengan yang lain, memainkan keyboard dan perkusi. Fully saja membuat lima versi bas untuk Woman. Semuanya bagus!
Tapi ma stony harus memilih satu di antaranya.
Anda tadi bilang “Mimpi besar” bernyanyi satu panggung dan bekerjasama dengan Fully Fullwood. Sebenarnya apa sih cita-cita Anda?
Cita-citaku, tampil dalam festival reggae di Jamaika, memperkenalkan reggae Indonesia kepada publik yang lebih luas lagi.
Bagaimana undangan festival reggae internasional selama ini?
mas tony nggak bisa datang ke sana… Karena tidak mendapatkan visa dari kedutaan Amerika. Undangan gue terima tidak lama setelah peristiwa tragedi World Trade Center, sebelas september 2001.
Awalnya panitia Bob Marley Festival di Houston, Texas mengundangku untuk tampil sebagai headliners. Tapi gue nggak mau tampil sendiri karena semua lagu gue kan nggak bisa dimainkan sendiri. Di samping itu, dia punya misi untuk memperkenalkan musik reggae Indonesia untuk publik di sana.
Reggae Indonesia kan ada kendang jaipongnya, talempong minang, suling sunda.. ya kayak gitu! Dia ajukan ke panitia bahwa gue baru mau tampil dengan syarat bisa membawa band
Panitia merespon, ‘Tony kamu bisa mencari player yang kamu butuhkan di Amerika, dari kendang sunda, dll…’. Tapi gue tetap bersikeras, gue baru mau tampil dengan musisi Indonesia. Jumlahnya semua 10 pemain. Lama-lama panitia di sana mengerti dengan kebutuhan gue. Kawan-kawan sudah menyiapkan keberangkatan gue untuk festival itu, mereka mau jadi volunteer, dari membuat ‘malam dana’. Gue sangat terharu!
Tapi ketika mengajukan visa untuk sepuluh musisi di Kedutaan Amerika, kita ditolak. Mungkin pemerintah Amrik masih paranoid, setelah tragedi WTC. Kawan-kawan shock, kok sebagai musisi masih juga dicurigai yang kagak-kagak. Lewat e-mail, gue sebar kabar bahwa Kedutaan Amerika tidak memberikan visa kepada musisi Indonesia. Panitia Bob Marley Festival di Houston cukup kaget juga. Seorang akademisi- musikolog dari West Virginia, Prof. Ann membuat petisi yang didukung para musisi dan akademisi Amerika, yang isinya protes keras terhadap pemerintah Amerika agar memberi kesempatan kepada musisi Indonesia untuk tampil pada sebuah festival musik. Petisi itu dikirim ke Gedung Putih, kantornya Presiden Bush.
Selanjutnya, masih ada undangan festival reggae yang datang?
Dari tahun 2003 sampai 2005, mas tony terus diundang untuk even Legend of Rasta reggae Festival di Houston, Texas. Tapi kan masalahnya, lagi-lagi Kedutaan Amerika di Jakarta tidak memberi visa. Padahal dia banyak mendapat dukungan, baik moril maupun materiil. Promotor Adri Subono dari Java Musikindo, secara pribadi mau ngasih uang puluhan juta kalau gue jadi berangkat. Tapi kenyataannya semua mentok karena nggak dikasih visa. Gue udah usaha, bekerja… Ya, gue sumeleh saja!
Sejak tahun 2004, setiap ada undangan festival reggae internasional, dia mulai cuekin. Tapi orang Amerika memberi dukungan. Mareka tahu lagu gue kan diputar di festival, tapi bertanya-tanya kok orangnya nggak pernah nongol.
Ada orang Amerika yang bekerja sebagai instruktur pada sebuah perusahaan minyak di Houston selalu berhubungan dengan kita lewat e-mail. Beberapa bulan menjelang festival reggae diselenggarakan, dia selalu siap membantu, dari membelikan tiket dan akomodasi. Suatu kali dia menitipkan uang lewat muridnya dari Indonesia, dia orang Batak, yang kebingungan kok ada instruktur perminyakan Amrik punya sahabat musisi reggae dari Indonesia, he..he…he! Lucu juga tuh!
Dari kejadian itu, lama-lama gue baru mengerti, ternyata orang Amerika itu sangat apresiatif dengan musik reggae Indonesia. Prof. Ann, misalnya, selalu memberi gue dorongan terus berkarya. Ketika dia dengar musik gue yang ada elemen musik Sunda, Jawa atau daerah lainnya di Indonesia, dia bilang, itu musikmu enggak ada di Amerika atau Afrika.
Budaya kita kan unik, sejarahnya panjang. Dia akhirnya mengirimkan lagu-laguku kepada Putu Mayo World Record, perusahaan yang berbasis di New York. Satu lagu gue, Pat Gulipat, masuk dalam kompilasi World Reggae berjudul Reggae Playground bersama musisi reggae dunia.
Gue langsung terharu sekaligus bangga, akhirnya musik reggae Indonesia diakui secara internasional.
Tony Q tak pernah menduga lagunya masuk dalam kompilasi Reggae Playground, bersanding dengan Rita Marley, istri Bob Marley dan Judy Mowatt, penyanyi latar The Wailers band Bob Marley, selain itu beberapa musisi yang mengisi album itu antara lain Johny Dread (Kuba), Eric Bibb (Amerika), Alan Schneider (Prancis), Modusta Largo (Maroko), The Burning Soul (Jamaika), Marty Dread (Amerika), Kal Dos Santos (Brasil), Asheba (Trinidad) dan Toot and The Maytals, band lawas dari Jamaika yang melahirkan kosakata “Reggae” ke dunia ini. Seluruh penjualan album ini diperuntukkan pembangunan sekolah taman kanak-kanak di Jamaika. Sebuah program yang bekerjasama dengan Perserikatan Bangsa-bangsa dan Rita Marley Foundation.
Bagaimana Anda melihat perkembangan musik reggae di Indonesia, yang sekarang lagi booming?
Gue selalu mendukung kawan-kawan yang bikin band reggae. Dan selama ini juga gue didukung kawan-kawan. Untuk desain sampul album Anak Kampung, yang bikin Ibnu Hibban, yang sudah menonton band gue sejak dia masih SMP. Sekarang dia sudah sarjana, lulusan jurusan seni rupa Institut Kesenian Jakarta. Cover Anak Kampung adalah skripsi Ibnu, dapat nilai A. Gue kan selalu mendukung sesuatu yang positif, kuncinya asal dikerjakan dengan senang hati semua akan berkembang. Setiap gue ngeband selalu ngajak band-band yang baru untuk jam-sesion. Di musik reggae itu nggak ada jarak, tua-muda saling mendukung. Gue nggak pernah menduga perkembangan reggae di masyarakat seperti sekarang ini, walau media masih memperlakukan seperti anak-tiri, kalau mau dibandingkan dengan musik rock atau pop. Sebagai pelaku reggae, gue akan terus bekerja, berkarya, bikin album…
Ada yang bilang Anda terlalu idealis?
Tolok ukur orang itu apa? Gue sih sederhana saja dalam bermusik. Pertama, harus dilakukan dengan senang hati. Penghasilan gue selama ini dari musik. Gak ada sampingan lain. Kalau gue dulu ngamen di jalanan karena gue melakukan itu dengan senang hati. Kalau gue nyanyi di kafe atau konser di daerah, itu semua gue lakukan dengan senang hati. Banyak juga kan yang mengukur apa yang kita kerjakan dengan berapa uang yang kita dapat… Wah,
itu sih bikin gue tertekan! Gue bikin band, jungkir-balik, terus bubar, karena kawan-kawan dulu nggak punya keyakinan musik reggae bisa diterima pasar. Ukurannya uang! Kalau berkesenian diukur dengan uang dan sukses melulu… yah, kita hidup dalam tekanan. Akhirnya bubar.
Gue sudah puluhan tahun bermusik reggae. Ketika almarhum Imanez masih memainkan karya-karya The Beatles, gue sudah ngereggae. Ketika album reggae dia sukses, gue merasa terpacu untuk berkarya. Iman beruntung karena Potlot mengelola bakat dia. Gue kan berproses dari bawah, dari hidup di jalanan, semua bertahap. Suatu kali gue pernah nyodorin karya gue ke sebuah perusahaan rekaman di Glodok. Tapi syaratnya, album gue akan dirilis tanpa menyertakan vocal gue.
Nama gue tetap dipakai tetapi yang nyanyi orang lain…
Edan! Gue langsung tolak. Begitu gue cerita ke kawankawan, justru gue digasak, dicemooh; ‘kok nggak lu ambil aja itu duit. Kan enak nggak usah capek-capek!’ Gue nggak sependapat! Ini karya gue, dan gue punya kemampuan untuk menyanyikannya. Itu kan suatu keyakinan.
Sekarang terbukti, kawan-kawan yang dulu mencemooh, kebanyakan sudah meninggalkan musik, cari kerja yang tidak ada hubungannya dengan musik. Kalau tetap bermusik, paling hanya memainkan lagu-lagu top-40, tidak berkembang dan penuh dengan tekanan, karena banyak diatur-atur orang dan secara materi gak cukup.
Bermusik itu ekspresi kebebasan. Ya, kita harus merawat kebebasan itu, dengan berkarya, mencari ilmu dan bergaul, mengalir saja… Selama kita memberi dukungan kepada potensi seseorang, pasti ada jalan terbuka untuk kita juga. Ada yang bilang,’wah Tony nyebar virus reggae..’
Padahal kan gue bergaul dengan musisi apa saja, rock, metal, punk… Gue suka pergaulan dan saling memberi apa yang kita tahu. Dulu gue sempat jadi instruktur musik di Wisma Relasi (markas band Steven n’ Coconut Treez).
Dari dalam studio, gue perhatiin ada Steven yang sedang melongok lama dari balik kaca. Dia kan dulu main musik hardcore(music-music yg aliranya keras). Dulu dia Rambutnya panjang belum digimbal kaya sekarang.
Keesokan harinya, kita ketemu. Dia minta dibikinin rambutnya dreadlock. Gue bikinin tiga biji. Besoknya dia datang lagi, semua rambutnya sudah digimbal tetapi numpuk jadi satu biji gede banget. Gue rapiin, gue gunting terus dijalin satu-satu, akhirnya jadi kayak sekarang ini. Dia itu sudah ada talent reggaenya. Kalau dengar band hardcorenya, dalam albumnya ada satu lagu reggae. Jadi gue nggak pernah ngasih virus, atau mempengaruhi dia supaya bermusik reggae. Ketika mengerjakan album pertama Coconut Treez, The Other Side, tony Q dengan teman-teman Rastafara ikut membantu. Bahkan, ketika ada yang datang ke mas tony, namanya Rival, ingin bermain musik reggae, mas tony kenalin ke Steven. Dan akhirnya Sampai sekarang dia jadi bassis Coconut Treez. Dalam hati, mas tony Q senang sekali melihat Steven coconuttrezz yang sekarang dah sangat berkembang
boleh dibilang Tony Q Rastafara klotokan dalam bermusik reggae. Hingga kini Tony Q telah melahirkan enam album, yaitu Rambut Gimbal (1996), Gue Falling in Love (1997), Damai dengan Cinta (2000), Kronologi (2003), Salam Damai (2005), anak kampong (2007)
Lirik lagu Anak Kampung adalah sepenggal biografi Tony Q ketika merantau di Jakarta. Pria asal Semarang yang terlahir dengan nama Tony Waluyo Sukmoasih pertama kali hidup di Jakarta bekerja pada PT Singapur-Cakung, sebagai buruh bagian quality control, sebuah pabrik kaleng. Merasa tertekan melihat mesin absensi, ia pindah kerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang desain periklanan di Sunter. Suatu kali, ia meminta ijin pada sang bos untuk diperkenankan kuliah seni rupa di Institut Kesenian Jakarta. Tapi si bos tak memberi ijin, justru memberinya setumpuk pekerjaan di percetakan. “Saya marah. Sesuai kontrak kerja kan saya sebagai desainer, hanya menggambar, kok diberi tugas di percetakan. Saya keluar!” sergahnya.
Akhirnya, ia berlabuh di Pasar Kaget Blok-M, hidup secara bohemian dengan mengamen. Ia merasa senang, bebas dan nyaman. “Orangtua saya begitu prihatin mendengar cerita orang-orang bahwa saya ngamen… Padahal saya bahagia dengan cara hidup seperti itu. Banyak teman, makan-tidur-ngamen… hari-hari yang bebas. Ngitung duit jam empat pagi di Hoya. Dapat uang beli senar gitar atau beli buku dan alat-alat lukis,” tutur Tony Q. yang pada masa itu banyak belajar dari musisi jalanan, Anto Baret dan lingkar pergaulan seniman Bulungan. Baginya, rasa was-was orangtua adalah wajar, justru mendorongnya untuk lebih berprestasi.
Perjalanan bermusik Tony Q memang terasah lewat mengamen lalu tampil di kafe-kafe di bilangan Blok-M. “Saya bersyukur ada yang memberi kepercayaan untuk tampil. Selain untuk dapur supaya tetap ngebul, sekaligus bisa bergaul dengan segala kalangan. Saya banyak belajar di sana,” katanya serius. Kini secara berkala Tony Q tampil di BB’s sebuah bar di bilangan Menteng. Di sana kerapkali band-band reggae seperti Steven n’ Coconut Treez, GangstaRasta, dan kadang band reggae dari Yogya, Shaggy Dog tampil menyemarakkan suasana.Tony Q kadang menyanyikan lagu-lagu Bob Marley diringi permainan gitar yang ciamik dari seorang bocah. Pada acara Reggae Gathering dulu waktu peluncuran album Salam Damai, Tony Q melakukan kolaborasi dengan puluhan anak-anak yang memainkan jimbe. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di pinggir kali Ciliwung tergabung dalam Sanggar Akar yang dibina oleh Hendrikus pemain perkusi/kendang band Rastafara.
Unsur musik-musik tradisional Indonesia begitu kental dalam lagu-lagu Tony Q Rastafara seperti Paris van Java berlirik bahasa Sunda, Ngayogyakarta berbahasa Jawa, dan Pesta Pantai yang memadukan musik talempong Minang. Perpaduan musik-musik tradisonal Indonesia yang dijelajahi Tony Q Rastafara memikat banyak mahasiswa jurusan musik untuk melakukan penelitian. Dan kabarnya Obie, mahasiswa jurusan musik Institut Seni Indonesia Jogjakarta telah membuat skripsi dari lagu-lagu Tony Q, dengan nilai A.
April tahun kemarin, dalam diskusi tentang musik reggae di Universitas Paramadina, seorang mahasiswa bertanya, “Bagaimana musik reggae bisa mengusung ide revolusioner kalau hanya bermain untuk kalangan atas?”
Sebagai pembicara Tony Q memberi penjelasan berdasarkan pengalaman selama hidup di jalanan. Musik reggae, katanya, lahir dari kalangan bawah yang tertindas dan terpinggirkan. Reggae merupakan musik perlawanan terhadap sistem penindasan. Lirik lagu yang dibuatnya adalah cerminan kenyataan hidup di Indonesia. Pat Gulipat menggambarkan bagaimana kawan makan kawan, atau kehidupan politik dan ekonomi kita yang sakit, saling menilap. Kalau lagu reggae yang berasal dari reality itu didengar kalangan atas di bar atau kafe, kata Tony Q, itu adalah bagian dari proses transformasi. Agar kalangan atas menyadari sisi kehidupan yang lain di kalangan bawah dan menengah.
Adalah sebuah kenyataan pula, kalangan atas Jakarta kini ramai mendatangi gigs reggae seperti yang digelar di Citos-Cilandak Town Square, Colours, News Cafe dan bar-bar lainnya.
PERJALANAN Tony Q dalam bermusik dimulai bersama kawan-kawannya ketika mendirikan band bernama Roots Rock Reggae pada 1989. Namun sayang, band itu tak sempat berlangsung lama, karena kawan-kawannya merasa tidak yakin kalau reggae bisa dipasarkan di tengah masyarakat, hingga bubar paruh 1990. Tahun 1990 Tony Q memndirikan band kembali dengan nama Exodus, namun bubar pada `1992. Kemudian Rastaman, 1992-1994. Terakhir pada 1994 ia mendirikan band Rastafara, hingga bubar tahun 2000. Kini dia lebih memilih berjalan sendiri bersama para additional players-nya.
zaman dulu semua nama band yang didirikannya hampir semuanya mengambil judul lagu Bob Marley. Seperti umumnya pecinta musik reggae, perjalanan musik Tony Q terinspirasi dari perjalanan panjang Bob Marley baik dalam bermusik, juga keterlibatan sosial-politiknya. Di sampul belakang buku yang ditulis Helmi Y. Haska, Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi (Kepak Book, 2005), Tony Q memberi komentar, “Selama ini gue memperjuangkan pikiran-pikiran Bob Marley. Marley buat gue adalah guru. Gue salut! Bob Marley memperjuangkan manusia supaya bangkit dari mental budak, mental slavery! Kondisinya mirip-mirip di sini. Gue teruskan perjuangan dia dengan musik reggae di bumi tercinta ini: Indonesia!”.
Berjuang, adalah kata kunci yang sering diucapkan Tony Q. Dan untuk menjadi reggaeman cobalah simak penggalan lagu Reggae berikut ini:
Reggae nggak harus gimbal
Gimbal nggak harus reggae
Reggae nggak harus beganjo
Reggae musik yang pecinta damai.
Memilih hidup dan bermusik di jalanan. Walau digasak dan dicemooh orang, tetap memilih reggae sebagai jalan hidupnya. Lagu-lagunya direkam Putumayo label tersohor dunia untuk world music. Sohor di ajang festival di Amerika tetapi selalu ditolak Kedutaan Amerika di Jakarta ketika mengurus visa.
Inilah reggaeman kita yang selalu bersahaja
SELALU ada berita baru tentang reggae dari Tony Q Rastafara. Selalu ada album atau master musik reggae di dalam tas kecilnya yang akan diperlihatkan kepada orang yang tertarik mencari tahu apa yang kini dikerjakannya. Atau sebuah buku, Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi yang agak lusuh karena sering dibaca dari tangan ke tangan, dibahasnya bersama beberapa kawan di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan kebetulan dia memberi komentar singkat di sampul belakang. Tony Q, memang reggaeman yang bersemangat!
Kadang dia menghilang dari Jakarta beberapa bulan untuk melakukan konser di beberapa kota di Jawa dan Bali. Biasanya digelar di kampus-kampus, atau bar dan cafe. Kadang langkahnya panjang hingga mancanegara, “Aku mau berangkat ke Aus, nih!” katanya lewat telepon seluler, suatu kali. Maksudnya pergi ke Australia untuk melakukan mixing di Sound Warp untuk album barunya, Anak Kampung, yang akan dirilis dalam waktu dekat ini.
Album Anak Kampung, melibatkan Fully Fullwood, pionir reggae, seorang bassist yang cukup penting perannya dalam perkembangan musik reggae di Jamaika pada dekade 70an.
Selama tigapuluh tahun karir musiknya, Fullwood pernah bekerjasama dengan Bob Marley, Peter Tosh, Black Uhuru, Gregory Isaacs hingga The Mighty Diamondas. Setahun yang lalu, Fully Fullwood dan kawan-kawannya di band Tosh Meets Marley sempat melakukan tur konser di Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan Bali. Di belakang panggung konser, Tony Q diperkenalkan kepada Fully Fullwood dan kawan-kawan, serta manajer Mark Miller.
Tiba-tiba saja scene reggae di tanah-air heboh melihat kedekatan Tony Q dengan Fully Fullwood yang kemudian berujung bekerjasama membuat sebuah album.
Sekembali Tony Q dari Australia, BATAVIASE NOUVELLES menemuinya di Wapres pada suatu petang. Sambil menyeruput kopi pahit dan menghisap rokok kretek dengan diselingi senda gurau, lagi-lagi Tony Q bersemangat menjawab BATAVIASE.
Bagaimana Anda bisa dekat dengan Fully Fullwood lalu bekerjasama membuat sebuah album. Apa ini sebuah kebetulan?
Ya, awalnya memang panitia konser memperkenalkan gue dengan Fully Fullwood. Bagi gue ini seperti mimpi besar. Bisa bernyanyi satu panggung dengan musisi reggae legendaris. Bayangkan, dia bilang,’Reggae lahir di dekat rumah saya.’
Lalu dia cerita tentang Bob Marley yang dulunya masih anak bawang… Wah, orang ini nggak sembarangan. Beberapa lagu Bob Marley kan dia ikut menulis, seperti Mr. Brown, Sun is Shining… Wah, luarbiasa!
Lalu panitia menyiapkan keberangkatan mas tony ke Bali untuk jam-session dengan band Tosh Meets Marley. Nah, ketika di Bali, ini seperti sebuah kebetulan… Setelah konser selesai, manajer band Mark Miller dan Fully serta para musisi ingin jalan-jalan melihat panorama Bali. Ketika itu panitia kabur entah ke mana, sehingga mas tony dan seorang sopir menemani mereka pergi ke Tanah Lot.
Bayangkan, dalam mobil cuma mas tony dan sopir doang orang Indonesia yang mengantar musisi reggae dunia, ada yang datang dari California, Swiss, Kanada. Jadi, walau pun satu band tapi mereka tinggal di negara yang berbeda. Selama perjalanan kita semakin akrab, karena gue membantu motret dan ngejelasin tentang pura Tanah Lot. Mereka sangat senang sekali, happy!
Selama bersama mereka, mas tony nulis lagu Woman yang kata Fully, ’Stag in my head’ dan Mark Miller dapat ide bikin lagu juga, judulnya In The Ghetto, idenya dia dapat ketika melihat orang-orang Jakarta yang bekerja di pagi buta untuk memberi makan keluarga.
Proses rekaman Woman juga terbilang cepat. mereka janjian ketemu di Studio Intro, Kemang, untuk rekaman. Beberapa jam sebelum mereka datang dari Bali, gue udah di studio, karena mas tony pengen tepat waktu, nggak mau telat. Di studio ma stony coba-coba bikin bahan dasar musik untuk Woman dengan gitar. Kemudian Fully datang langsung merespon dengan bass, begitu juga dengan yang lain, memainkan keyboard dan perkusi. Fully saja membuat lima versi bas untuk Woman. Semuanya bagus!
Tapi ma stony harus memilih satu di antaranya.
Anda tadi bilang “Mimpi besar” bernyanyi satu panggung dan bekerjasama dengan Fully Fullwood. Sebenarnya apa sih cita-cita Anda?
Cita-citaku, tampil dalam festival reggae di Jamaika, memperkenalkan reggae Indonesia kepada publik yang lebih luas lagi.
Bagaimana undangan festival reggae internasional selama ini?
mas tony nggak bisa datang ke sana… Karena tidak mendapatkan visa dari kedutaan Amerika. Undangan gue terima tidak lama setelah peristiwa tragedi World Trade Center, sebelas september 2001.
Awalnya panitia Bob Marley Festival di Houston, Texas mengundangku untuk tampil sebagai headliners. Tapi gue nggak mau tampil sendiri karena semua lagu gue kan nggak bisa dimainkan sendiri. Di samping itu, dia punya misi untuk memperkenalkan musik reggae Indonesia untuk publik di sana.
Reggae Indonesia kan ada kendang jaipongnya, talempong minang, suling sunda.. ya kayak gitu! Dia ajukan ke panitia bahwa gue baru mau tampil dengan syarat bisa membawa band
Panitia merespon, ‘Tony kamu bisa mencari player yang kamu butuhkan di Amerika, dari kendang sunda, dll…’. Tapi gue tetap bersikeras, gue baru mau tampil dengan musisi Indonesia. Jumlahnya semua 10 pemain. Lama-lama panitia di sana mengerti dengan kebutuhan gue. Kawan-kawan sudah menyiapkan keberangkatan gue untuk festival itu, mereka mau jadi volunteer, dari membuat ‘malam dana’. Gue sangat terharu!
Tapi ketika mengajukan visa untuk sepuluh musisi di Kedutaan Amerika, kita ditolak. Mungkin pemerintah Amrik masih paranoid, setelah tragedi WTC. Kawan-kawan shock, kok sebagai musisi masih juga dicurigai yang kagak-kagak. Lewat e-mail, gue sebar kabar bahwa Kedutaan Amerika tidak memberikan visa kepada musisi Indonesia. Panitia Bob Marley Festival di Houston cukup kaget juga. Seorang akademisi- musikolog dari West Virginia, Prof. Ann membuat petisi yang didukung para musisi dan akademisi Amerika, yang isinya protes keras terhadap pemerintah Amerika agar memberi kesempatan kepada musisi Indonesia untuk tampil pada sebuah festival musik. Petisi itu dikirim ke Gedung Putih, kantornya Presiden Bush.
Selanjutnya, masih ada undangan festival reggae yang datang?
Dari tahun 2003 sampai 2005, mas tony terus diundang untuk even Legend of Rasta reggae Festival di Houston, Texas. Tapi kan masalahnya, lagi-lagi Kedutaan Amerika di Jakarta tidak memberi visa. Padahal dia banyak mendapat dukungan, baik moril maupun materiil. Promotor Adri Subono dari Java Musikindo, secara pribadi mau ngasih uang puluhan juta kalau gue jadi berangkat. Tapi kenyataannya semua mentok karena nggak dikasih visa. Gue udah usaha, bekerja… Ya, gue sumeleh saja!
Sejak tahun 2004, setiap ada undangan festival reggae internasional, dia mulai cuekin. Tapi orang Amerika memberi dukungan. Mareka tahu lagu gue kan diputar di festival, tapi bertanya-tanya kok orangnya nggak pernah nongol.
Ada orang Amerika yang bekerja sebagai instruktur pada sebuah perusahaan minyak di Houston selalu berhubungan dengan kita lewat e-mail. Beberapa bulan menjelang festival reggae diselenggarakan, dia selalu siap membantu, dari membelikan tiket dan akomodasi. Suatu kali dia menitipkan uang lewat muridnya dari Indonesia, dia orang Batak, yang kebingungan kok ada instruktur perminyakan Amrik punya sahabat musisi reggae dari Indonesia, he..he…he! Lucu juga tuh!
Dari kejadian itu, lama-lama gue baru mengerti, ternyata orang Amerika itu sangat apresiatif dengan musik reggae Indonesia. Prof. Ann, misalnya, selalu memberi gue dorongan terus berkarya. Ketika dia dengar musik gue yang ada elemen musik Sunda, Jawa atau daerah lainnya di Indonesia, dia bilang, itu musikmu enggak ada di Amerika atau Afrika.
Budaya kita kan unik, sejarahnya panjang. Dia akhirnya mengirimkan lagu-laguku kepada Putu Mayo World Record, perusahaan yang berbasis di New York. Satu lagu gue, Pat Gulipat, masuk dalam kompilasi World Reggae berjudul Reggae Playground bersama musisi reggae dunia.
Gue langsung terharu sekaligus bangga, akhirnya musik reggae Indonesia diakui secara internasional.
Tony Q tak pernah menduga lagunya masuk dalam kompilasi Reggae Playground, bersanding dengan Rita Marley, istri Bob Marley dan Judy Mowatt, penyanyi latar The Wailers band Bob Marley, selain itu beberapa musisi yang mengisi album itu antara lain Johny Dread (Kuba), Eric Bibb (Amerika), Alan Schneider (Prancis), Modusta Largo (Maroko), The Burning Soul (Jamaika), Marty Dread (Amerika), Kal Dos Santos (Brasil), Asheba (Trinidad) dan Toot and The Maytals, band lawas dari Jamaika yang melahirkan kosakata “Reggae” ke dunia ini. Seluruh penjualan album ini diperuntukkan pembangunan sekolah taman kanak-kanak di Jamaika. Sebuah program yang bekerjasama dengan Perserikatan Bangsa-bangsa dan Rita Marley Foundation.
Bagaimana Anda melihat perkembangan musik reggae di Indonesia, yang sekarang lagi booming?
Gue selalu mendukung kawan-kawan yang bikin band reggae. Dan selama ini juga gue didukung kawan-kawan. Untuk desain sampul album Anak Kampung, yang bikin Ibnu Hibban, yang sudah menonton band gue sejak dia masih SMP. Sekarang dia sudah sarjana, lulusan jurusan seni rupa Institut Kesenian Jakarta. Cover Anak Kampung adalah skripsi Ibnu, dapat nilai A. Gue kan selalu mendukung sesuatu yang positif, kuncinya asal dikerjakan dengan senang hati semua akan berkembang. Setiap gue ngeband selalu ngajak band-band yang baru untuk jam-sesion. Di musik reggae itu nggak ada jarak, tua-muda saling mendukung. Gue nggak pernah menduga perkembangan reggae di masyarakat seperti sekarang ini, walau media masih memperlakukan seperti anak-tiri, kalau mau dibandingkan dengan musik rock atau pop. Sebagai pelaku reggae, gue akan terus bekerja, berkarya, bikin album…
Ada yang bilang Anda terlalu idealis?
Tolok ukur orang itu apa? Gue sih sederhana saja dalam bermusik. Pertama, harus dilakukan dengan senang hati. Penghasilan gue selama ini dari musik. Gak ada sampingan lain. Kalau gue dulu ngamen di jalanan karena gue melakukan itu dengan senang hati. Kalau gue nyanyi di kafe atau konser di daerah, itu semua gue lakukan dengan senang hati. Banyak juga kan yang mengukur apa yang kita kerjakan dengan berapa uang yang kita dapat… Wah,
itu sih bikin gue tertekan! Gue bikin band, jungkir-balik, terus bubar, karena kawan-kawan dulu nggak punya keyakinan musik reggae bisa diterima pasar. Ukurannya uang! Kalau berkesenian diukur dengan uang dan sukses melulu… yah, kita hidup dalam tekanan. Akhirnya bubar.
Gue sudah puluhan tahun bermusik reggae. Ketika almarhum Imanez masih memainkan karya-karya The Beatles, gue sudah ngereggae. Ketika album reggae dia sukses, gue merasa terpacu untuk berkarya. Iman beruntung karena Potlot mengelola bakat dia. Gue kan berproses dari bawah, dari hidup di jalanan, semua bertahap. Suatu kali gue pernah nyodorin karya gue ke sebuah perusahaan rekaman di Glodok. Tapi syaratnya, album gue akan dirilis tanpa menyertakan vocal gue.
Nama gue tetap dipakai tetapi yang nyanyi orang lain…
Edan! Gue langsung tolak. Begitu gue cerita ke kawankawan, justru gue digasak, dicemooh; ‘kok nggak lu ambil aja itu duit. Kan enak nggak usah capek-capek!’ Gue nggak sependapat! Ini karya gue, dan gue punya kemampuan untuk menyanyikannya. Itu kan suatu keyakinan.
Sekarang terbukti, kawan-kawan yang dulu mencemooh, kebanyakan sudah meninggalkan musik, cari kerja yang tidak ada hubungannya dengan musik. Kalau tetap bermusik, paling hanya memainkan lagu-lagu top-40, tidak berkembang dan penuh dengan tekanan, karena banyak diatur-atur orang dan secara materi gak cukup.
Bermusik itu ekspresi kebebasan. Ya, kita harus merawat kebebasan itu, dengan berkarya, mencari ilmu dan bergaul, mengalir saja… Selama kita memberi dukungan kepada potensi seseorang, pasti ada jalan terbuka untuk kita juga. Ada yang bilang,’wah Tony nyebar virus reggae..’
Padahal kan gue bergaul dengan musisi apa saja, rock, metal, punk… Gue suka pergaulan dan saling memberi apa yang kita tahu. Dulu gue sempat jadi instruktur musik di Wisma Relasi (markas band Steven n’ Coconut Treez).
Dari dalam studio, gue perhatiin ada Steven yang sedang melongok lama dari balik kaca. Dia kan dulu main musik hardcore(music-music yg aliranya keras). Dulu dia Rambutnya panjang belum digimbal kaya sekarang.
Keesokan harinya, kita ketemu. Dia minta dibikinin rambutnya dreadlock. Gue bikinin tiga biji. Besoknya dia datang lagi, semua rambutnya sudah digimbal tetapi numpuk jadi satu biji gede banget. Gue rapiin, gue gunting terus dijalin satu-satu, akhirnya jadi kayak sekarang ini. Dia itu sudah ada talent reggaenya. Kalau dengar band hardcorenya, dalam albumnya ada satu lagu reggae. Jadi gue nggak pernah ngasih virus, atau mempengaruhi dia supaya bermusik reggae. Ketika mengerjakan album pertama Coconut Treez, The Other Side, tony Q dengan teman-teman Rastafara ikut membantu. Bahkan, ketika ada yang datang ke mas tony, namanya Rival, ingin bermain musik reggae, mas tony kenalin ke Steven. Dan akhirnya Sampai sekarang dia jadi bassis Coconut Treez. Dalam hati, mas tony Q senang sekali melihat Steven coconuttrezz yang sekarang dah sangat berkembang
boleh dibilang Tony Q Rastafara klotokan dalam bermusik reggae. Hingga kini Tony Q telah melahirkan enam album, yaitu Rambut Gimbal (1996), Gue Falling in Love (1997), Damai dengan Cinta (2000), Kronologi (2003), Salam Damai (2005), anak kampong (2007)
Lirik lagu Anak Kampung adalah sepenggal biografi Tony Q ketika merantau di Jakarta. Pria asal Semarang yang terlahir dengan nama Tony Waluyo Sukmoasih pertama kali hidup di Jakarta bekerja pada PT Singapur-Cakung, sebagai buruh bagian quality control, sebuah pabrik kaleng. Merasa tertekan melihat mesin absensi, ia pindah kerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang desain periklanan di Sunter. Suatu kali, ia meminta ijin pada sang bos untuk diperkenankan kuliah seni rupa di Institut Kesenian Jakarta. Tapi si bos tak memberi ijin, justru memberinya setumpuk pekerjaan di percetakan. “Saya marah. Sesuai kontrak kerja kan saya sebagai desainer, hanya menggambar, kok diberi tugas di percetakan. Saya keluar!” sergahnya.
Akhirnya, ia berlabuh di Pasar Kaget Blok-M, hidup secara bohemian dengan mengamen. Ia merasa senang, bebas dan nyaman. “Orangtua saya begitu prihatin mendengar cerita orang-orang bahwa saya ngamen… Padahal saya bahagia dengan cara hidup seperti itu. Banyak teman, makan-tidur-ngamen… hari-hari yang bebas. Ngitung duit jam empat pagi di Hoya. Dapat uang beli senar gitar atau beli buku dan alat-alat lukis,” tutur Tony Q. yang pada masa itu banyak belajar dari musisi jalanan, Anto Baret dan lingkar pergaulan seniman Bulungan. Baginya, rasa was-was orangtua adalah wajar, justru mendorongnya untuk lebih berprestasi.
Perjalanan bermusik Tony Q memang terasah lewat mengamen lalu tampil di kafe-kafe di bilangan Blok-M. “Saya bersyukur ada yang memberi kepercayaan untuk tampil. Selain untuk dapur supaya tetap ngebul, sekaligus bisa bergaul dengan segala kalangan. Saya banyak belajar di sana,” katanya serius. Kini secara berkala Tony Q tampil di BB’s sebuah bar di bilangan Menteng. Di sana kerapkali band-band reggae seperti Steven n’ Coconut Treez, GangstaRasta, dan kadang band reggae dari Yogya, Shaggy Dog tampil menyemarakkan suasana.Tony Q kadang menyanyikan lagu-lagu Bob Marley diringi permainan gitar yang ciamik dari seorang bocah. Pada acara Reggae Gathering dulu waktu peluncuran album Salam Damai, Tony Q melakukan kolaborasi dengan puluhan anak-anak yang memainkan jimbe. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di pinggir kali Ciliwung tergabung dalam Sanggar Akar yang dibina oleh Hendrikus pemain perkusi/kendang band Rastafara.
Unsur musik-musik tradisional Indonesia begitu kental dalam lagu-lagu Tony Q Rastafara seperti Paris van Java berlirik bahasa Sunda, Ngayogyakarta berbahasa Jawa, dan Pesta Pantai yang memadukan musik talempong Minang. Perpaduan musik-musik tradisonal Indonesia yang dijelajahi Tony Q Rastafara memikat banyak mahasiswa jurusan musik untuk melakukan penelitian. Dan kabarnya Obie, mahasiswa jurusan musik Institut Seni Indonesia Jogjakarta telah membuat skripsi dari lagu-lagu Tony Q, dengan nilai A.
April tahun kemarin, dalam diskusi tentang musik reggae di Universitas Paramadina, seorang mahasiswa bertanya, “Bagaimana musik reggae bisa mengusung ide revolusioner kalau hanya bermain untuk kalangan atas?”
Sebagai pembicara Tony Q memberi penjelasan berdasarkan pengalaman selama hidup di jalanan. Musik reggae, katanya, lahir dari kalangan bawah yang tertindas dan terpinggirkan. Reggae merupakan musik perlawanan terhadap sistem penindasan. Lirik lagu yang dibuatnya adalah cerminan kenyataan hidup di Indonesia. Pat Gulipat menggambarkan bagaimana kawan makan kawan, atau kehidupan politik dan ekonomi kita yang sakit, saling menilap. Kalau lagu reggae yang berasal dari reality itu didengar kalangan atas di bar atau kafe, kata Tony Q, itu adalah bagian dari proses transformasi. Agar kalangan atas menyadari sisi kehidupan yang lain di kalangan bawah dan menengah.
Adalah sebuah kenyataan pula, kalangan atas Jakarta kini ramai mendatangi gigs reggae seperti yang digelar di Citos-Cilandak Town Square, Colours, News Cafe dan bar-bar lainnya.
PERJALANAN Tony Q dalam bermusik dimulai bersama kawan-kawannya ketika mendirikan band bernama Roots Rock Reggae pada 1989. Namun sayang, band itu tak sempat berlangsung lama, karena kawan-kawannya merasa tidak yakin kalau reggae bisa dipasarkan di tengah masyarakat, hingga bubar paruh 1990. Tahun 1990 Tony Q memndirikan band kembali dengan nama Exodus, namun bubar pada `1992. Kemudian Rastaman, 1992-1994. Terakhir pada 1994 ia mendirikan band Rastafara, hingga bubar tahun 2000. Kini dia lebih memilih berjalan sendiri bersama para additional players-nya.
zaman dulu semua nama band yang didirikannya hampir semuanya mengambil judul lagu Bob Marley. Seperti umumnya pecinta musik reggae, perjalanan musik Tony Q terinspirasi dari perjalanan panjang Bob Marley baik dalam bermusik, juga keterlibatan sosial-politiknya. Di sampul belakang buku yang ditulis Helmi Y. Haska, Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi (Kepak Book, 2005), Tony Q memberi komentar, “Selama ini gue memperjuangkan pikiran-pikiran Bob Marley. Marley buat gue adalah guru. Gue salut! Bob Marley memperjuangkan manusia supaya bangkit dari mental budak, mental slavery! Kondisinya mirip-mirip di sini. Gue teruskan perjuangan dia dengan musik reggae di bumi tercinta ini: Indonesia!”.
Berjuang, adalah kata kunci yang sering diucapkan Tony Q. Dan untuk menjadi reggaeman cobalah simak penggalan lagu Reggae berikut ini:
Reggae nggak harus gimbal
Gimbal nggak harus reggae
Reggae nggak harus beganjo
Reggae musik yang pecinta damai.
R.I.P Mbah Surip
i love you full...ini sebuah
ucapan dari seorang musisi bernama alm.mbah Surip (Urip Haryanto) yang
memiliki jiwa atau soul of reggae begitu dalam.sekilas ucapan itu bagi
banyak orang (mungkin) dianggap hanya sebuah celoteh yang nyeleneh, tapi
sesungguhnya kata-kata atau celoteh yang kerap dilontarkan oleh
alm.mbah Surip memiliki pesan yang sangat dalam.
Jika ditelaah lebih dalam dan ternyata, alm.mbah
Surip telah menggaungkan ajaran cinta kasih ke semua orang tanpa
pandang bulu bahkan tanpa disadari oleh banyak orang, karena kata-kata
yang sering dilontarkannya banyak yang menganggap hanya sebuah
celoteh.sesungguhnya, alm.mbah Surip telah mengajarkan kita semua dengan
cara yang nyeleneh, unik, lucu dan kocak tentang cinta kasih. terlebih
soul of reggae adalah one love! semoga apa yang selalu dilontarkan dan
yang telah digaungkan oleh alm.mbah Surip dapat membuat kita semua
semakin penuh cinta kasih, dalam alunan musik reggae yang penuh damai,
cinta, dan persaudaraan.
Selamat jalan mbah Surip...karyamu selalu kami kenang, karena kami I Love You Full!
RIWAYAT MBAH SURIP
Di sebuah kamar kontrakan di gang sempit di Kelurahan Cipayung, Jakarta Timur. Pagi masih jauh. Jarum jam baru menunjuk pukul 04.00 WIB. Sesubuh itu seorang kakek berambut gimbal sudah bangun dari tidurnya. Sudah lima tahun ia tinggal di sini bersama stafnya, Farid, 25 tahun. Tarif sewa kamar lusuh berukuran 3 x 7 meter ini cuma Rp 300 ribu sebulan.
Jangan salah. Kakek berambut gimbal ini bukan sembarang kakek. Namanya
kini sohor ke seantero negeri. Tampangnya muncul hampir tiap hari di
layar televisi. Dialah Mbah Surip yang kini jadi pembicaraan di
mana-mana. Lagu ‘Tak Gendong” ciptaannya tiba-tiba meroket ke tangga
lagu paling top, dinyanyikan mulai dari bocah sampai nenek-nenek, dan
mengerek nama Mbah Surip ke puncak popularitas.
Hari itu sederet agenda sudah menghadang si Mbah. Jam 09.00 dia sudah harus tiba di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, untuk rekaman Ceriwis, sebuah acara televisi. Mbah Surip diundang jadi bintang tamu. Setelah itu ada pemotretan di dua tabloid. Malamnya masih ada acara di sebuah stasiun televisi yang lain.
Beres mandi, menyeruput kopi hitam, dan merokok kretek Gudang Garam Merah kesukaannya, si Mbah siap berangkat. Sambil mencangking sebuah gitar butut, ia dibonceng Farid naik sepeda motor pergi ke Kampung Artis, Cipayung, yang berjarak cuma 300 meter dari situ.
Tiba di sana, mereka langsung menuju kantor manajemen Kampung Artis. Di pelataran sebuah mobil Suzuki APV biru berplat B 8155 GX sudah menunggu, lengkap dengan sopir dan seorang asisten bernama Yoni yang disediakan Kampung Artis. “Mobil ini baru seminggu dibeli,” kata si Mbah kepada VIVAnews.
Yoni mengaku baru bekerja seminggu ini membantu Mbah Surip. Si Mbah sendiri memang baru sepekan bergabung dengan Kampung Artis—lembaga yang membantu artis-artis yang lagi naik daun untuk mengelola bisnis mereka.
”Mbah sekarang sudah dikontrak sebuah perusahaan. Mitra Mbah itu kemarin baru saja memberi rumah beserta isinya, juga mobil baru. Semua atas nama Mbah dan sudah ke notaris,” kata Mbah Surip, sembari terkekeh.
Pukul 07.00 mobil APV tiba di Wapres Bulungan. Perut si Mbah rupanya keroncongan. Matanya tertumbuk pada sebuah gerobak soto ayam di emper jalan. Tanpa banyak ba-bi-bu, dia langsung memesan semangkuk soto. Untuk minum, dia tidak minta air putih atau teh, tapi secangkir kopi hitam.
Setelah perut kenyang, sekarang giliran kantuk datang menyerang. Mbah Surip pun nyelonong masuk ke Wapres. Di dalam, ia menemukan sebuah pojok menarik di tempat makan lesehan. Dan langsung saja si Mbah meringkuk. Tak lama kemudian … krrrrr … krrrrr …. dengkur pun terdengar dari kerongkongannya.
Si Mbah baru terbangun dua jam kemudian ketika kru Ceriwis mulai berdatangan. Begitu melek, ia kembali memesan kopi hitam manis. Segelas besar.
Bulungan, Blok M, bukan tempat baru buat Mbah Surip. Sudah sejak tahun 1989 dia menggelandang dan mengamen di sini. Kala itu tak jarang dia tidur di emperan toko. Tak heran kalau ia mengenal cukup banyak pengamen yang “menginap” di Bulungan pagi itu. Di tahun itu pula dia mulai menggimbalkan rambutnya. Kata dia, model rambutnya ini diilhami Tony Rastafara, seorang musisi reggae yang sering dia temui di kawasan Bulungan ketika itu.
Sepanjang karir musiknya, Mbah Surip sudah banyak melahirkan album. Beberapa di antaranya adalah “Ijo Royo-royo” (1997), “Indonesia“ (1998), “Reformasi” (1998), “Tak Gendong” (2003) dan “Barang Baru” (2004). Album ini bukan dirilis perusahaan musik, tapi dia rekam lalu edarkan sendiri. Distribusinya bukan dari Disc Tara atau toko musik mentereng lain, tapi melalui warung dan toilet umum di seputar Blok M dan Ancol.
Baru pada April 2009, perusahaan rekaman Falcon menemukan si Mbah dan mencium bau uang di balik lagu-lagunya yang sederhana, lugu, dan kocak itu. Mereka memilih 10 lagu, termasuk “Tak Gedong” dan “Bangun Tidur”, melemparnya ke pasar, dan … BUUMMM … langsung dahsyat meledak.
Nasib Mbah Surip pun berputar haluan. Seratus delapan puluh derajat.
Pukul 10.00 WIB, pengambilan gambar Ceriwis dimulai. Indra Bekti, pemandu acara ini, bertanya tentang ring back tone “Tak Gendong” yang kabarnya telah diunduh sekian juta telepon genggam dan membuat Mbah Surip kaya mendadak. Diperkirakan, dari RBT itu saja, dia bakal mengantungi Rp 4,5 miliar. “Tanggapan si Mbah?” Indra bertanya, serius.
“Ha-ha-ha-ha …!” Mbah Surip malah terbahak mempertontonkan barisan giginya yang khas itu.
Penasaran, Indra bertanya lagi: mau dibelikan apa uang sebanyak itu?
“Saya mau beli helikopter seken (maksudnya second hand),” kata si Mbah sekenanya, masih sembari terbahak.
Sebelum pengambilan gambar di area sebuah lampu merah, seorang pemilik warung makan di dekat situ datang menghampiri. Ia pun menggamit tangan si Mbah, mengajak masuk ke warung, dan mempersilakannya makan minum apa saja. Si Mbah lagi-lagi meminta segelas besar kopi hitam manis.
Pagi itu Mbah Surip mengenakan kaus panjang bergaris merah. Ia membawa tas ransel yang memiliki dua kantung di sisi kiri kanannya. Kantung kanan penuh dengan uang seribuan. Yang kiri diisi rokok, korek api, dan segepok uang Rp 50 ribuan di dalam amplop putih.
Seorang perempuan peminta-minta masuk. Sontak si Mbah merogoh kantung kiri. Ia mencabut selembar Rp 50 ribu, lalu ia sisipkan ke tangan si pengemis sembari berbisik: “Sudah, aktingmu sudah bagus. Sekarang pulang sana.”
Selama berada di warung itu, sebagaimana disaksikan VIVAnews, empat pengamen dan pengemis masuk dan empat kali itu pula si Mbah spontan merogoh kantung kiri ranselnya. Semua sama, masing-masing dibaginya Rp 50 ribu. Saat ditanya alasannya, si Mbah bilang hanya ingin berbagi rizki. Uang di amplop itu rupanya honor dia menjadi bintang tamu Ceriwis.
Pukul 12.00 WIB, syuting selesai. Si Mbah sudah ditunggu untuk pemotretan di sebuah tabloid di kawasan Kedoya Barat, Jakarta Barat. APV baru itu kembali bergerak. Mbah Surip duduk di sebelah pengemudi. Ia menyulut sebatang rokok kretek. Kaca mobil dia buka lebar-lebar.
Dan kita pun melihat sebuah bukti dari popularitas sang mantan pengamen. Melihat kakek berambut gimbal ini, orang di tepi jalan, pengendara mobil yang melintas, tua muda, remaja sampai kakek-nenek, kontan melambaikan tangan sembari meneriakkan namanya.
“Ha-ha-ha-ha …!!!” Mbah Surip terbahak, sembari membalas lambaian fansnya.
Pukul 13.00 WIB Mbah Surip tiba di kantor sebuah tabloid remaja. Kali ini dia harus mejeng bareng kelompok band Kuburan. Sejam setengah kemudian sesi pemotretan selesai. Si Mbah harus buru-buru meluncur ke kantor tabloid yang lain, juga untuk keperluan pemotretan. Tapi kepergiannya tertahan. Wartawan dan staf tabloid itu bergiliran minta foto bareng.
Si Mbah meladeninya dengan ramah. “Ha-ha-ha-ha …!!!” Bahaknya yang khas tak pernah ketinggalan.
Pada biodatanya, tertulis penyanyi nyentrik ini lahir di Mojokerto, pada 6 Mei 1969. Ini rupanya tahun kelahiran menurut KTP. Sejatinya, dia lahir 20 tahun lebih dulu, di tahun 1949. Dengan kata lain, umurnya kini sudah 60 tahun.
Latar belakangnya tak pernah jelas benar. Kepada VIVAnews, dia mengaku bekerja di bidang perminyakan saat muda dulu. Sejak tahun 1976 sampai 1986, katanya.
Pernah kuliah? Bukan pernah lagi, tak tanggung-tanggung ia mengaku kuliah di tiga universitas sekaligus! Salah satunya di Universitas Petra, Surabaya. Lebih ajaib lagi, kata dia ketiga-tiganya lulus. Percaya atau tidak, kami serahkan menurut kepercayaan Anda masing-masing.
Bagaimana dengan anak istrinya? Sejumlah data di Internet menunjukkan si Mbah merupakan ayah dari empat anak dan kakek empat cucu. Istrinya dikabarkan telah dia ceraikan. Benarkah? “Sudah, jangan tanya-tanya soal itu,” Dia terkesan malas diajak bicara tentang hal yang satu ini.
Di atas APV, si Mbah kembali diserang kantuk. Ia memundurkan kursi depan dan tak lama kemudian kembali terlelap. Menurut Farid, sebelum ada APV ini, ke mana-mana dia dan Mbah Surip selalu naik sepeda motor.
Pukul 15.20, Mbah Surip dibangunkan. Mereka tiba di sebuah kantor tabloid di kawasan Kuningan. Sama seperti sebelumnya, di sini pun sang kakek disambut layaknya seorang bintang besar. Puluhan wartawan dan karyawan berebut berfoto bersama.
Pukul 16.40 mobil si Mbah bergerak lagi ke Taman Mini Indonesia Indah. Ada jadwal pengambilan gambar di sebuah stasiun televisi yang lain. Tapi mereka datang terlalu dini. Acara sedianya baru akan dimulai pukul 21.00 nanti.
Kesempatan itu digunakan Mbah Surip untuk berbelanja baju dan celana dulu. Maklum, katanya, dia tak sempat mencuci baju. Tiba di mal heboh kembali terjadi. Begitu si Mbah keluar dari mobil, ratusan orang langsung merubung, minta berfoto bersama. Tak satu pun yang ditampik. Si Mbah meladeni penggemarnya satu-persatu, sembari terus menyeringai lebar.
Farid yang pergi berbelanja. Dia memilihkan tiga potong kaus lengan panjang dan tiga celana jins buat bossnya. Mereknya sembarang saja. Toh si Mbah tak perduli Burberry atau Louis Vitton. Harganya semua cuma Rp 930 ribu.
Usai berbelanja, mereka mampir di sebuah pom bensin. Di toilet umum si Mbah cuci muka. Dengan cuek, ia ganti baju di dalam mobil dengan kaus yang baru dibeli Farid seharga 85 ribu perak. Si Mbah lalu mengambil kolonye dari tasnya dan ia teteskan ke rambutnya. Pfiuhhhh… Bau tajam langsung menyengat.
Mau tahu sebuah rahasia? Si Mbah selama ini rupanya mengkeramasi rambut gimbalnya tidak dengan sembarang shampo. Yang digunakannya, kata Farid, adalah shampo khusus buat kucing Anggora.
Sekitar pukul 19.00, APV biru bergerak kembali ke stasiun TV. Sampai mereka di studio, pengambilan gambar ternyata baru digelar satu jam lagi.
Tak berapa lama, Farid dan sejumlah kru celingukan. Mereka mencari-cari si Mbah yang tiba-tiba menghilang.
Eh … walah, yang dicari rupanya sedang tengkurap di atas sebuah meja … lagi ngorok pulas kembali.
Geger kembali muncul sesaat syuting dimulai. Tiba-tiba Mbah Surip pingsan di atas panggung. Seluruh kru panik. Mbah Surip buru-buru didudukkan di kursi. Untunglah, sebelum jeda iklan berakhir, si Mbah sudah segar kembali. Dari bisik-bisik di kalangan awak TV, rupanya adegan semaput itu sudah diskenariokan untuk membetot perhatian penonton.
Pukul 22.00 pengambalian gambar selesai. APV meluncur balik ke Kampung Artis. Tiba di sana, mobil diparkir dan si Mbah kembali dibonceng Farid naik sepeda motor, pulang ke kamar kontrakan lusuh mereka.
“Ha-ha-ha-ha… I love you full!”
yamaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnndddddddddddddddddddd :)
RIWAYAT MBAH SURIP
Di sebuah kamar kontrakan di gang sempit di Kelurahan Cipayung, Jakarta Timur. Pagi masih jauh. Jarum jam baru menunjuk pukul 04.00 WIB. Sesubuh itu seorang kakek berambut gimbal sudah bangun dari tidurnya. Sudah lima tahun ia tinggal di sini bersama stafnya, Farid, 25 tahun. Tarif sewa kamar lusuh berukuran 3 x 7 meter ini cuma Rp 300 ribu sebulan.
Hari itu sederet agenda sudah menghadang si Mbah. Jam 09.00 dia sudah harus tiba di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, untuk rekaman Ceriwis, sebuah acara televisi. Mbah Surip diundang jadi bintang tamu. Setelah itu ada pemotretan di dua tabloid. Malamnya masih ada acara di sebuah stasiun televisi yang lain.
Beres mandi, menyeruput kopi hitam, dan merokok kretek Gudang Garam Merah kesukaannya, si Mbah siap berangkat. Sambil mencangking sebuah gitar butut, ia dibonceng Farid naik sepeda motor pergi ke Kampung Artis, Cipayung, yang berjarak cuma 300 meter dari situ.
Tiba di sana, mereka langsung menuju kantor manajemen Kampung Artis. Di pelataran sebuah mobil Suzuki APV biru berplat B 8155 GX sudah menunggu, lengkap dengan sopir dan seorang asisten bernama Yoni yang disediakan Kampung Artis. “Mobil ini baru seminggu dibeli,” kata si Mbah kepada VIVAnews.
Yoni mengaku baru bekerja seminggu ini membantu Mbah Surip. Si Mbah sendiri memang baru sepekan bergabung dengan Kampung Artis—lembaga yang membantu artis-artis yang lagi naik daun untuk mengelola bisnis mereka.
”Mbah sekarang sudah dikontrak sebuah perusahaan. Mitra Mbah itu kemarin baru saja memberi rumah beserta isinya, juga mobil baru. Semua atas nama Mbah dan sudah ke notaris,” kata Mbah Surip, sembari terkekeh.
Pukul 07.00 mobil APV tiba di Wapres Bulungan. Perut si Mbah rupanya keroncongan. Matanya tertumbuk pada sebuah gerobak soto ayam di emper jalan. Tanpa banyak ba-bi-bu, dia langsung memesan semangkuk soto. Untuk minum, dia tidak minta air putih atau teh, tapi secangkir kopi hitam.
Setelah perut kenyang, sekarang giliran kantuk datang menyerang. Mbah Surip pun nyelonong masuk ke Wapres. Di dalam, ia menemukan sebuah pojok menarik di tempat makan lesehan. Dan langsung saja si Mbah meringkuk. Tak lama kemudian … krrrrr … krrrrr …. dengkur pun terdengar dari kerongkongannya.
Si Mbah baru terbangun dua jam kemudian ketika kru Ceriwis mulai berdatangan. Begitu melek, ia kembali memesan kopi hitam manis. Segelas besar.
Bulungan, Blok M, bukan tempat baru buat Mbah Surip. Sudah sejak tahun 1989 dia menggelandang dan mengamen di sini. Kala itu tak jarang dia tidur di emperan toko. Tak heran kalau ia mengenal cukup banyak pengamen yang “menginap” di Bulungan pagi itu. Di tahun itu pula dia mulai menggimbalkan rambutnya. Kata dia, model rambutnya ini diilhami Tony Rastafara, seorang musisi reggae yang sering dia temui di kawasan Bulungan ketika itu.
Sepanjang karir musiknya, Mbah Surip sudah banyak melahirkan album. Beberapa di antaranya adalah “Ijo Royo-royo” (1997), “Indonesia“ (1998), “Reformasi” (1998), “Tak Gendong” (2003) dan “Barang Baru” (2004). Album ini bukan dirilis perusahaan musik, tapi dia rekam lalu edarkan sendiri. Distribusinya bukan dari Disc Tara atau toko musik mentereng lain, tapi melalui warung dan toilet umum di seputar Blok M dan Ancol.
Baru pada April 2009, perusahaan rekaman Falcon menemukan si Mbah dan mencium bau uang di balik lagu-lagunya yang sederhana, lugu, dan kocak itu. Mereka memilih 10 lagu, termasuk “Tak Gedong” dan “Bangun Tidur”, melemparnya ke pasar, dan … BUUMMM … langsung dahsyat meledak.
Nasib Mbah Surip pun berputar haluan. Seratus delapan puluh derajat.
Pukul 10.00 WIB, pengambilan gambar Ceriwis dimulai. Indra Bekti, pemandu acara ini, bertanya tentang ring back tone “Tak Gendong” yang kabarnya telah diunduh sekian juta telepon genggam dan membuat Mbah Surip kaya mendadak. Diperkirakan, dari RBT itu saja, dia bakal mengantungi Rp 4,5 miliar. “Tanggapan si Mbah?” Indra bertanya, serius.
“Ha-ha-ha-ha …!” Mbah Surip malah terbahak mempertontonkan barisan giginya yang khas itu.
Penasaran, Indra bertanya lagi: mau dibelikan apa uang sebanyak itu?
“Saya mau beli helikopter seken (maksudnya second hand),” kata si Mbah sekenanya, masih sembari terbahak.
Sebelum pengambilan gambar di area sebuah lampu merah, seorang pemilik warung makan di dekat situ datang menghampiri. Ia pun menggamit tangan si Mbah, mengajak masuk ke warung, dan mempersilakannya makan minum apa saja. Si Mbah lagi-lagi meminta segelas besar kopi hitam manis.
Pagi itu Mbah Surip mengenakan kaus panjang bergaris merah. Ia membawa tas ransel yang memiliki dua kantung di sisi kiri kanannya. Kantung kanan penuh dengan uang seribuan. Yang kiri diisi rokok, korek api, dan segepok uang Rp 50 ribuan di dalam amplop putih.
Seorang perempuan peminta-minta masuk. Sontak si Mbah merogoh kantung kiri. Ia mencabut selembar Rp 50 ribu, lalu ia sisipkan ke tangan si pengemis sembari berbisik: “Sudah, aktingmu sudah bagus. Sekarang pulang sana.”
Selama berada di warung itu, sebagaimana disaksikan VIVAnews, empat pengamen dan pengemis masuk dan empat kali itu pula si Mbah spontan merogoh kantung kiri ranselnya. Semua sama, masing-masing dibaginya Rp 50 ribu. Saat ditanya alasannya, si Mbah bilang hanya ingin berbagi rizki. Uang di amplop itu rupanya honor dia menjadi bintang tamu Ceriwis.
Pukul 12.00 WIB, syuting selesai. Si Mbah sudah ditunggu untuk pemotretan di sebuah tabloid di kawasan Kedoya Barat, Jakarta Barat. APV baru itu kembali bergerak. Mbah Surip duduk di sebelah pengemudi. Ia menyulut sebatang rokok kretek. Kaca mobil dia buka lebar-lebar.
Dan kita pun melihat sebuah bukti dari popularitas sang mantan pengamen. Melihat kakek berambut gimbal ini, orang di tepi jalan, pengendara mobil yang melintas, tua muda, remaja sampai kakek-nenek, kontan melambaikan tangan sembari meneriakkan namanya.
“Ha-ha-ha-ha …!!!” Mbah Surip terbahak, sembari membalas lambaian fansnya.
Pukul 13.00 WIB Mbah Surip tiba di kantor sebuah tabloid remaja. Kali ini dia harus mejeng bareng kelompok band Kuburan. Sejam setengah kemudian sesi pemotretan selesai. Si Mbah harus buru-buru meluncur ke kantor tabloid yang lain, juga untuk keperluan pemotretan. Tapi kepergiannya tertahan. Wartawan dan staf tabloid itu bergiliran minta foto bareng.
Si Mbah meladeninya dengan ramah. “Ha-ha-ha-ha …!!!” Bahaknya yang khas tak pernah ketinggalan.
Pada biodatanya, tertulis penyanyi nyentrik ini lahir di Mojokerto, pada 6 Mei 1969. Ini rupanya tahun kelahiran menurut KTP. Sejatinya, dia lahir 20 tahun lebih dulu, di tahun 1949. Dengan kata lain, umurnya kini sudah 60 tahun.
Latar belakangnya tak pernah jelas benar. Kepada VIVAnews, dia mengaku bekerja di bidang perminyakan saat muda dulu. Sejak tahun 1976 sampai 1986, katanya.
Pernah kuliah? Bukan pernah lagi, tak tanggung-tanggung ia mengaku kuliah di tiga universitas sekaligus! Salah satunya di Universitas Petra, Surabaya. Lebih ajaib lagi, kata dia ketiga-tiganya lulus. Percaya atau tidak, kami serahkan menurut kepercayaan Anda masing-masing.
Bagaimana dengan anak istrinya? Sejumlah data di Internet menunjukkan si Mbah merupakan ayah dari empat anak dan kakek empat cucu. Istrinya dikabarkan telah dia ceraikan. Benarkah? “Sudah, jangan tanya-tanya soal itu,” Dia terkesan malas diajak bicara tentang hal yang satu ini.
Di atas APV, si Mbah kembali diserang kantuk. Ia memundurkan kursi depan dan tak lama kemudian kembali terlelap. Menurut Farid, sebelum ada APV ini, ke mana-mana dia dan Mbah Surip selalu naik sepeda motor.
Pukul 15.20, Mbah Surip dibangunkan. Mereka tiba di sebuah kantor tabloid di kawasan Kuningan. Sama seperti sebelumnya, di sini pun sang kakek disambut layaknya seorang bintang besar. Puluhan wartawan dan karyawan berebut berfoto bersama.
Pukul 16.40 mobil si Mbah bergerak lagi ke Taman Mini Indonesia Indah. Ada jadwal pengambilan gambar di sebuah stasiun televisi yang lain. Tapi mereka datang terlalu dini. Acara sedianya baru akan dimulai pukul 21.00 nanti.
Kesempatan itu digunakan Mbah Surip untuk berbelanja baju dan celana dulu. Maklum, katanya, dia tak sempat mencuci baju. Tiba di mal heboh kembali terjadi. Begitu si Mbah keluar dari mobil, ratusan orang langsung merubung, minta berfoto bersama. Tak satu pun yang ditampik. Si Mbah meladeni penggemarnya satu-persatu, sembari terus menyeringai lebar.
Farid yang pergi berbelanja. Dia memilihkan tiga potong kaus lengan panjang dan tiga celana jins buat bossnya. Mereknya sembarang saja. Toh si Mbah tak perduli Burberry atau Louis Vitton. Harganya semua cuma Rp 930 ribu.
Usai berbelanja, mereka mampir di sebuah pom bensin. Di toilet umum si Mbah cuci muka. Dengan cuek, ia ganti baju di dalam mobil dengan kaus yang baru dibeli Farid seharga 85 ribu perak. Si Mbah lalu mengambil kolonye dari tasnya dan ia teteskan ke rambutnya. Pfiuhhhh… Bau tajam langsung menyengat.
Mau tahu sebuah rahasia? Si Mbah selama ini rupanya mengkeramasi rambut gimbalnya tidak dengan sembarang shampo. Yang digunakannya, kata Farid, adalah shampo khusus buat kucing Anggora.
Sekitar pukul 19.00, APV biru bergerak kembali ke stasiun TV. Sampai mereka di studio, pengambilan gambar ternyata baru digelar satu jam lagi.
Tak berapa lama, Farid dan sejumlah kru celingukan. Mereka mencari-cari si Mbah yang tiba-tiba menghilang.
Eh … walah, yang dicari rupanya sedang tengkurap di atas sebuah meja … lagi ngorok pulas kembali.
Geger kembali muncul sesaat syuting dimulai. Tiba-tiba Mbah Surip pingsan di atas panggung. Seluruh kru panik. Mbah Surip buru-buru didudukkan di kursi. Untunglah, sebelum jeda iklan berakhir, si Mbah sudah segar kembali. Dari bisik-bisik di kalangan awak TV, rupanya adegan semaput itu sudah diskenariokan untuk membetot perhatian penonton.
Pukul 22.00 pengambalian gambar selesai. APV meluncur balik ke Kampung Artis. Tiba di sana, mobil diparkir dan si Mbah kembali dibonceng Farid naik sepeda motor, pulang ke kamar kontrakan lusuh mereka.
“Ha-ha-ha-ha… I love you full!”
yamaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnndddddddddddddddddddd :)
Langganan:
Postingan (Atom)